GABUNG DISINI untuk Meningkatkan Trafic Blog MU.....

Sabtu, 02 April 2011

Ilmu Kasunyatan ( Kenyataan Hidup )

MANUSIA MAHLUK COMPLEK

1. Proses Hanyokro Manggiling atau Proses Ekosistem atau Proses Peredaran Jagad Raya.

Manusia merupakan mahluk komplek, keberadaannya melalui proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem ( perputaran/peredaran masa ), karena sebelum dilahirkan didunia ini, manusia merupakan bagian dari segala benda-benda, baik dibumi, di udara, diangkasa dan dijagad raya ini dengan segala bentuk, baik yang hidup maupun benda mati, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, sehingga tidak mengerti atau tidak mengetahui keberadaannya ketika sebelum dilahirkan dimuka bumi ini.

Melalui proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem dan evolusi inilah jagad raya melahirkan salah satu mahluk yang dinamakan manusia dan manusia-manusia generasi inilah yang melahirkan manusia baru yang juga mela-lui proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem seperti pendahulunya, lahir, dewasa, tua, meninggal dunia, kembali menjadi bagian dari bumi.

Dimuka dan didalam bumi ini hidup mahluk-mahluk lain yang tidak terhitung jumlahnya, berupa tumbuh-tumbuhan, dan binatang, bercampur dengan segala macam unsur kehidupan dan unsur-unsur kematian yang sedang menjalani proses Hanyokro Manggiling atau ekosistem (perputaran/peredaran) untuk menjadi mahluk-mahluk penghuni jagad raya ini, ada yang kembali jadi manusia lagi, jadi tumbuh-tumbuhan lagi, jadi binatang lagi, jadi air lagi, jadi gas lagi dan lain sebagainya.

Sebagian dari semua unsur-unsur zat-zat di jagad raya inilah, akhirnya berkumpul dalam diri manusia, ada yang berujud manusia laki-laki dan ada yang berwujud manusia perempuan.

Didalam tubuh laki-laki terwujud air suci calon atau bibit manusia bayi dan dalam tubuh manusia perempuan terwujud ladang suci calon manusia bayi, pertemuan bibit atau air suci didalam ladang suci ditubuh perempuan itulah, terciptanya manusia.

Selanjutnya manusia menjalani kodratnya (tugas Illahi), kalau perempuan dibuahi, beranak, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki membuahi dan melindungi.

Semula tidak berdaya dan tidak berbentuk sempurna menurut sudut pandang manusia, karena kesempurnaan mahluk terkecil itu tidak terpandang oleh manusia dengan mata telanjangnya karena pandangan manusia sangat terbatas kemampuannya.

Setelah cukup kuat dan sempurna calon manusia bayi untuk menjalani hidup dimuka bumi ini, maka ia dilahirkan untuk menempuh kehidupan baru sama sekali yang sangat berbeda dengan kehidupan masa lalunya sewaktu berada dalam rahim ibunya.

Kehidupan baru si manusia jabang bayi meninggalkan kehidupan lamanya yakni dalam kandungan ibunya, manusia jabang bayi kelak tidak ingat lagi pada kehidupan masa lalunya ketika dalam kandungan ibunya.

Mahluk lainpun menempuh proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem, sebagaimana proses Hanyokro Manggiling atau pro-ses ekosistem yang dijalani oleh manusia, hanya manusia yang tidak mengerti.

Keberadaan manusia di muka bumi atau di jagad raya ini, tak ubahnya seperti bayi manusia masih dalam kandungan ibunya sedangkan di dunia ini manusia dalam kandungan alam semesta untuk menuju ke kematian dunia atau meninggal dunia, dalam kematian dunia atau meninggal dunia itulah hakekatnya manusia menuju pada kelahiran berikutnya di alam akhirat.

Di alam akhirat inilah manusia akan menjalani kehidupan barunya tanpa diikuti oleh badan/tubuh/raga yang terdiri dari tulang belulang, daging otot dan lain sebagainya.

Badan/tubuh/raga inilah sarana atau alat untuk merasakan panas, dingin, sejuk, nikmat, sengsara, bahagia, kepuasan nafsu dlsb.

Tanpa badan/tubuh/raga tidak akan diperoleh lagi rasa panas, dingin, sejuk, nikmat, bahagia, sengsara, kepuasan nafsu dll, karena sarana atau alat untuk itu telah ditinggalkan.



2. MENYONGSONG KEHIDUPAN ABADI
(Kematian di dunia atau jagad raya)

Dalam kehidupan di dunia atau jagad raya ini manusia tidak ada ubahnya sebagaimana kehidupan manusia bayi didalam kandungan ibunya, untuk menyongsong kehidupan dimuka bumi ini orang tuanya mempersiapkan agar bayi manusia ini siap, kuat dan sempurna ketika menjalani kehidupan di muka bumi atau dijagad raya ini.

Sedangkan manusia hidup dalam kandungan jagad raya ini, yang umumnya dinamakan manusia hidup, sebenarnya tidak lain hanya merupakan penantian untuk dilahirkan dialam lain ( alam akhirat ).

Jika bayi manusia didalam kandungan ibu, untuk memperoleh kesempurnaan kehidupan di dunia atau jagad raya ini dipersiapkan kesempurnaannya oleh orang tuanya, tetapi manusia yang di dalam kandungan alam semesta atau jagad raya ini untuk mencapai kesempurnaan hidupnya di alam akhirat nanti, harus mempersiapkan sendiri kesempurnaannya.

Ketika manusia akan dilahirkan di dunia atau dimuka bumi ini manusia dilengkapi dengan hati nurani oleh Tuhan Yang Maha Esa / Sang Hyang Widhi/Allah s.w.t. dan lain-lain sebutan.

Hati nurani merupakan jalan atau petunjuk arah yang benar dan sempurna untuk agar manusia dalam menjalani kehidupan dalam kandungan jagad raya ini dapat kembali dengan sempurna kepadaNya.

Sedangkan seluruh perintah suci (wisik) baik yang dibukukan seperti Al Qur’an, Injil, Zabur, Weda dll. merupakan lampu penerang agar manusia dapat membaca hati nuraninya dengan benar.

Kitab suci mengikuti hati nurani, karena kitab suci dibukukan jauh rentang waktunya dengan kehidupan hari ini, kitab suci ditulis dan dibukukan sesuai dengan keadaan atau adat kebiasaan waktu itu, sedangkan adat kebiasaan waktu sekarang sungguh sangat jauh perbedaannya, hanya pada nilai-nilai atau sifat-sifat serta kebesaran Illahi yang tidak akan berubah untuk selama-lamanya.


3. FUNGSI BADAN/TUBUH/RAGA.
Badan/tubuh/raga merupakan alat atau sarana agar manusia dapat memperoleh kelahiran atau kehidupan sempurna di alam barunya (akhirat).

Untuk memperoleh kehidupan sempurna di akhirat, manusia harus mengenal watak-watak Illahi, karena tanpa mengenal atau tanpa pengetahuan watak-watak Illahi, maka manusia tidak akan dapat hidup sempurna di akhiratnya. Kehidupan di akhirat dipenuhi oleh suasana Illahi.

Di alam (akhirat) ini, manusia sudah tidak mempunyai lagi sarana untuk merasakan susah, senang, panas, dingin, nikmatnya nafsu, kemolekan atau keindahan wanita, kecakapan laki-laki, tidak dapat melihat, tidak dapat men-dengar, tidak dapat berpikir dan tidak dapat merasakan apapun juga sebagaimana ketika menjalani kehidupan di dunia ini.

Alat atau sarana untuk hal-hal tadi sudah kembali menjalani kodratnya (tugas Illahi), mengikuti atau menjalani proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem kembali.

Badan/tubuh/raga kembali keunsur-unsur semula dan menjalani proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem barunya.

Sedangkan roh jika dalam menjalani kehidupan di muka bumi atau di jagad raya ini dapat mempunyai sifat-sifat Illahi, maka roh tersebut kembali kepada Illahi dan jika tidak dapat mempunyai sifat-sifat Illahi, akan kembali mengikuti proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem untuk memperoleh sifat Illahi agar dapat bersatu kembali dengan Illahi, jika kehidupan barunya masih tetap belum mempu-nyai sifat-sifat Illahi maka, ia akan terus menerus mengikuti proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem sampai mempunyai sifat-sifat Illahi agar supaya dapat kembali bersatu dengan Illahi.

Tidak akan bersatu dengan air jika tidak mempunyai sifat air, tidak bersatu dengan api jika tidak mempunyai sifat api, tidak bersatu dengan cahaya jika tidak mempunyai sifat cahaya, demikian juga roh tidak akan bersatu dengan Illahi jika tidak mempunyai sifat sebagaimana yang dimiliki Illahi.

Sebelum manusia mempunyai sifat Illahi, manusia masih selalu mengikuti proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem sampai manusia mempunyai sifat illahi dan dengan mempunyai sifat illahi itulah maka manusia dapat bersatu kembali dengan Illahi.

Dalam menjalani proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem, manusia tidak selalu dan tidak dapat dipastikan akan menjadi manusia lagi, karena ada kemungkinan dapat berganti menjadi makhluk lain selain manusia.

Sifat terakhir yang dimiliki itulah yang menentukan tempatnya, roh akan selalu mencari mahluk-mahluk yang sifatnya sama dengannya, jika belum menemukan mahluk yang sifatnya sama, maka roh tetap mengembara mencari dan mencari terus sampai menemukan mahluk yang sifatnya sama dengannya kemudian menyatu, selanjutnya menjalani proses Hanyokro Manggiling atau proses ekosistem baru.


4. UNSUR-UNSUR DALAM BADAN/TUBUH/RAGA MANUSIA.
Unsur Badan/tubuh/raga, manusia terdiri dari kulit, daging, otot, tulang, jantung, paru-paru, ginjal, rempelohati, sunsum, darah, empedu dll., bekerja secara sistematis dan otomatis tanpa menunggu perintah dan bahkan otak atau pikiran manusia tidak dapat menghentikan atau memerintahkan agar mereka bekerja menyimpang dari tugasnya masing-masing.

Tugas pokok badan/tubuh/raga untuk menjaga roh agar tetap berada dalam dirinya, mengantarkan roh sampai dapat mencapai kesempurnaan untuk kehidupan berikutnya.

Dengan dibatasi oleh badan/tubuh/raga, sebagai tempat sementara roh dan sekaligus sebagai tempat membimbing atau menuntun roh agar dapat mengetahui jalan menyatu dengan Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saran dan kritik anda saya tunggu...